BERITA LIPI Mengajak Penduduk Pulau Pari untuk Mengelola Sumberdaya Air di PulauBERITA LIPI Mengajak Penduduk Pulau Pari untuk Mengelola Sumberdaya Air di Pulau

BERITA

LIPI Mengajak Penduduk Pulau Pari untuk Mengelola Sumberdaya Air di Pulau

LIPI Mengajak Penduduk Pulau Pari untuk Mengelola Sumberdaya Air di Pulau

Indonesia memiliki 17.504 pulau dimana 28 diantaranya adalah pulau besar (Main Island). Sehingga sisanya sebesar 17.475 pulau berkategori Pulau Kecil dan sangat kecil. Kebijakan Pemerintah saat ini adalah mengembangkan Pulau-Pulau Kecil yang ada di seluruh Indonesia sebagai salah satu tujuan wisata selain untuk permukiman. Ini merupakan potensi sekaligus tantangan dalam pengelolaannya.

Pulau-Pulau Kecil dengan luasan yang dimilikinya berdampak pada terbatasnya kapasitas dalam menyimpan air. Oleh karena ketersediaan air yang sangat terbatas tersebut, maka diperlukan pengelolaan untuk menghindari terjadinya krisis air di pulau-pulau kecil. Sistem Pengelolaan yang diharapkan adalah pengelolaan yang dapat melibatkan komunitas lokal untuk menjamin keberlanjutan pengelolaan itu sendiri. Oleh karena itu masyarakat lokal perlu dibekali dengan berbagai keahlian terkait dalam sistem pengelolaan sumberdaya air di pulau kecil. Salah satunya adalah memberikan wawasan mengenai beberapa teknologi konservasi air.

Dalam rangka memberikan wawasan mengenai pengelolaan sumberdaya air di pulau kecil, maka LIPI menyelenggarakan kegiatan “Pengembangan Kapasitas Masyarakat Pulau Pari Melalui Sosialisasi Teknologi Pengelolaan Sumberdaya Air di Pulau Kecil”. Kegiatan ini merupakan bagian dari program kolaboratif yang dikoordinatori oleh Indonesia Global Compact Network (IGCN), LIPI serta Habitat for Humanity Indonesia (HFHI), yaitu Peningkatan Kesadaran Masyarakat Tentang Kualitas dan Ketersediaan Air di Pulau Pari” pada Kamis-Jumat, 15-16 Desember 2016 di Pulau Pari. Kegiatan ini adalah program kerjasama antara Indonesia Global Compact Network (IGCN) serta didukung oleh UNESCO dan Asia Pulp & Paper Group (APP).

Kegiatan ini menitikberatkan pada pemahaman mengenai teknologi pengelolaan air di pulau kecil serta meningkatkan kesadaran masyarakat serta anak-anak pelajar mengenai pentingnya air bagi kehidupan serta penggunaan air secara bijak. Selain workshop juga dilakukan story telling atau kegiatan mendongeng bagi anak-anak Sekolah Satu Atap yang bertemakan “Peran Air Bagi Masyarakat Pulau Kecil”. Adapun secara detail tujuan dari kegiatan ini adalah memberikan pemahaman kepada msyarakat mengenai: 1. Pentingnya pengelolaan sumberdaya air di pulau kecil; 2. Memperkenalkan teknologi pengelolaan sumberdaya air di pulau kecil; dan 3. Pentingnya penggunaan air secara bijak.

Melalui kegiatan workshop, peserta dapat memahami teknologi pengelolaan sumberdaya air, antara lain: Biopori, Sumur Resapan, Simpanan dan Imbuhan Buatan Untuk Air Tanah (SIMBAT) serta metode vegetatif yaitu pemilihan jenis tanaman yang dapat menyimpan atau menjaga ketersediaan air tanah. Kegiatan workshop dihadiri oleh 37 orang partisipan (10 perempuan dan 27 laki-laki) yang merupakan disession maker di Pulau Pari, terdiri dari Ketua RW Pulau Pari, Ketua RT 01-04, Perwakilan Kepolisian Pulau Pari, Ketua Forum Peduli Pulau Pari, Ketua Asosiasi Wisata Bahari Pulau Pari, Kepala Poskes Pulau Pari,Perwakilan Komunitas Travel Pulau Pari, Ketua Karang Taruna, Kepala Sekolah SD/SMP Satu Atap Pulau Pari, Perwakilan Pengurus Madrasah,Ketua Koperasi Pulau Pari dan Perwakilan dari masyarakat.

Antusiasme peserta dapat dikategorikan cukup tinggi, hal ini terlihat dari jumlah peserta yang mengikuti kegiatan ini mencapai 70% dari peserta target. Selain itu antusias partisipan juga terlihat dari hampir semua partisipan mengikuti tiap sesi materi dan praktik dari awal sampai akhir. Padahal dengan kondisi terbatas (tanpa listrik) kegiatan workshop dapat berjalan dengan baik dan justru lebih intens melalui komunikasi dua arah antara narasumber dengan para partisipan yang hadir. Peserta juga mendapatkan evaluasi melalui pre test dan post test untuk mengukur tingkat pemahaman sebelum mengikuti workshop dan setelah mengikuti workshop.

Nurdin (Perwakilan Koperasi), menginformasikan dalam sesi diskusi bahwa ada teknologi sederhana yang sudah dibuat oleh sebagian masyarakat untuk dapat menampung/mengelola air yang biasa disebut dengan sumur renteng. Sumur renteng ini sifatnya mengumpulkan air dalam sebuah sumur dengan menampung air hujan dan dialirkan dengan menggunakan pipa penghubung. Dr. Dyah Marganingrum selaku narasumber dari LIPI, menyampaikan sumur renteng ini sifat kerjanya agak berbeda dengan teknologi yang dikembangkan oleh LIPI yaitu SIMBAT dimana pipa penghubung berupa pipa galeri (pipa yang diberi lubang) agar air resapan lebih tersebar.

Sulaiman (Ketua RW4) menyampaikan bahwa pada saat ini kondisi air di lingkungan pulau pari dikategorikan cukup melimpah. Hingga saat ini belum ada keluhan warga yang kekurangan air. Namun melalui paparan materi tentang penyadaran masyarakat akan keterbatasan air di Pulau Kecil yang disampaikan oleh Dr. Dyah Marganingrum dapat menjadi acuan untuk kembali menyadarkan warga pulau pari untuk tidak lupa menghemat pemakaian air dan menggunakan berbagai alternatif teknologi pengelolaan air (seperti biopori, sumur resapan dan penanaman tanaman berakar serabut seperti tanaman bambu, kelor dan sukun) untuk mengelola air di Pulau Pari.

Kegiatan lainnya yang diselenggarakan adalah kegiatan Story Telling dengan tema “Peran Air Bagi Masyarakat Pulau Kecil”. Kegiatan ini diikuti oleh 101 murid yang terdiri dari kelas 1 s/d VI SD Satu Atap Pulau Pari. Antusiasme murid sangat tinggi dalam mengikuti kegiatan peningkatan awareness melalui metode mendongeng. Selain mendongeng, murid diajak terlibat aktif dalam games atau permainan edukasi khususnya terkait dengan isi dongeng. Pertanyaan diberikan kepada murid untuk melihat tingkat pemahaman murid terhadap pesan yang disampaikan di dalam dongeng.

LATEST BERITA

Peresmian Kampanye Dugong and Seagrass Conservation Project DSCP IndonesiaPeresmian Kampanye Dugong and Seagrass Conservation Project (DSCP) Indonesia
Peresmian kampanye DSCP Indonesia ini diselenggarakan pada hari Kamis tanggal 2 November 2017 dengan ditandai dengan penanaman bibit lamun sebagai salah satu habitat Dugong.
Pelatihan Penilai Kondisi Biodiversitas Ikan Terumbu Karang
Pelatihan ini diselenggarakan selama 9 hari yakni dari tanggal 24 Oktober hingga 1 November 2017 dengan menggunakan fasilitas edukasi kelautan di LPKSDMO LIPI, Pulau Pari, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta.
Konsolidasi Kepemimpinan Kepala LPKSDMO LIPI Yang Baru
Indra Bayu Vimono dilantik menjadi Kepala Loka Pengembangan Kompetensi Sumberdaya Manusia Oseanografi (LPKSDMO) LIPI yang baru.
Other Information Support 1
Other Information Support 2
Other Information Support 3
Other Information Support 4
Other Information Support 5
SITE MAP
KONTAK KAMI
Gedung Tisna Amijaya Lt.2
Jl.Raden Saleh No.43, Cikini
Jakarta Pusat 10330

Telp: +62 21 391 2497
Email: uptlpksdmolipi@mail.lipi.go.id
Riset Bersama, Registrasi Hak Paten, Karir
Other Information Footer Copyright
Copyright © 2015 - PKSDMO Pulau Pari All Rights Reserved
Jasa Pembuatan Website by IKT
mobile